Create a Joomla website with Joomla Templates. These Joomla Themes are reviewed and tested for optimal performance. High Quality, Premium Joomla Templates for Your Site

Apoteker

Pendidikan profesi apoteker adalah pendidikan farmasi yang diselenggarakan untuk menghasilkan apoteker yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan praktik kefarmasian. Pendidikan profesi apoteker merupakan lanjutan dari pendidikan sarjana farmasi (S-1). Tahap pendidikan profesi berupa pemberian pemahaman akademik dan pengalaman praktik profesi (experimential learning) yang dilaksanakan di fasilitas pelayanan kefarmasian. Ketentuan perundang-undangan tentang Pekerjaan Kefarmasian pada Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 menempatkan apoteker sebagai penanggungjawab pekerjaan kefarmasian dalam produksi sediaan farmasi, distribusi atau penyaluran sediaan farmasi, maupun dalam pelayanan sediaan farmasi dan alat kesehatan pada fasilitas pelayanan kefarmasian.

Program Studi Profesi Apoteker yang selanjutnya disingkat PSPA yang akan didirikan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki visi, misi dan tujuan sebagai berikut:

Visi PSPA:
Menjadi penyelenggara program studi apoteker yang terkemuka secara nasional dan internasional yang menghasilkan apoteker muslim yang profesional dalam menjalankan praktek kefarmasian

Misi PSPA:
1. Menyelenggarakan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman ke dalam kurikulum pendidikan apoteker.
2. Menyelenggarakan pendidikan yang menghasilkan apoteker yang kompeten dalam bidang pelayanan kefarmasian, teknologi farmasi, promosi kesehatan, manajerial serta teknologi informasi dan komunikasi
3. Menjalin kerjasama yang efektif dengan pemangku kepentingan, asosiasi pendidikkan tinggi farmasi, organisasi profesi, untuk menjamin terlaksananya proses pendidikan yang bermutu

Tujuan PSPA:
Tujuan Umum
Menghasilkan apoteker muslim yang kompeten dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian
Tujuan Khusus
Menghasilkan apoteker muslim yang:
1. Mempunyai integritas keislaman dan menjalankan pekerjaan kefarmasian sesuai dengan kode etik kefarmasian
2. Mampu memberikan pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan
3. Mampu menerapkan cara pembuatan sediaan farmasi yang baik dan halal serta melaksanakan pengendalian mutu di industri farmasi
4. Mempunyai kemampuan komunikasi dan menguasai teknologi informasi dalam melakukan pekerjaan kefarmasian
5. Mempunyai kemampuan manajerial dalam mengelola usaha-usaha farmasi

Misi dan tujuan ini tidak terlepas dari misi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan disesuaikan dengan kompetensi lulusan yang sudah digariskan oleh IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) dan APTFI karena merupakan suatu program profesi.
Untuk mencapai misi dan tujuan ini, dapat dilakukan berbagai upaya. Dari segi kurikulum, dikembangkan kurikulum yang berbasis keilmuan, keislaman dan keindonesiaan. Kemudian menyediakan sumber daya yang meliputi sarana dan prasarana yang memadai, SDM yang berkualitas, dan dana cukup untuk membiayai biaya operasional pendidikan yang bermutu.

Sarana dan prasarana serta SDM sudah tersedia dan sangat memadai untuk penyelenggaraan PSPA karena UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sudah memiliki Program Studi Farmasi yang secara sarana, prasarana dan SDM yang dibutuhkan hampir sama dengan PSPA. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki gedung kuliah yang representatif, perpustakaan, laboratorium, ruang diskusi, jaringan internet, tempat praktek kerja profesi apoteker (rumah sakit, apotek, puskesmas, industri obat dan kosmetik, badan POM). SDM yang dimiliki terdiri dari praktisi dan akademisi yang berkompeten di bidangnya ditambah SDM nonakademik sebagai penunjang kegiatan akademik.
Pendidikan profesi apoteker diselenggarakan dalam dua semester berturut-turut, terdiri atas perkuliahan, kerja praktek profesi dan ujian apoteker. Di setiap semester dilaksanakan baik perkuliahan maupun kerja praktek dengan jenis yang berbeda (dipilih: industri, rumah sakit, apotek, pemerintahan).

Bidang ilmu yang menjadi pokok program pendidikan profesi apoteker UIN Syahid ini dibagi menjadi 2 peminatan yaitu : pelayanan kefarmasian dan farmasi industri, dengan jumlah sks peminatan pelayanan kefarmasian 36 sks (32 sks mata kuliah wajib dan 4 sks mata kuliah pilihan), dan peminatan industri farmasi 36 sks (34 sks mata kuliah wajib dan 2 sks mata kuliah pilihan). Sistem yang digunakan adalah sistem klasikal modifikasi dimana mahasiswa dituntut berpartisipasi aktif. Sistem ujian apoteker dirancang untuk mengukur kemampuan seorang calon apoteker dalam memenuhi standar pengetahuan akademik, keterampilan profesional, sikap dan etika sebagai sarjana penyandang jabatan profesi. Ujian apoteker mencakup ujian OSCE (objective structured clinical examination) dan ujian siding mencakup 3 kelompok materi : aspek regulasi obat, aspek pelayanan kefarmasian, aspek industri

Profil lulusan yang akan dihasilkan oleh Program studi profesi apoteker akan disesuaikan dengan dua bidang peminatan yang dimilikinya. Pada peminatan pelayanan kefarmasian, program studi diharapakan dapat menghasilkan profil lululusan sebagai berikut :
1. Penyedia dan penyalur obat, kosmetika yang terjamin kualitas dan legalitasnya yang dibutuhkan oleh masyarakat
2. Penyedia dan penyalur obat yang terjamin kualitas dan legalitasnya bagi pasien yang sedang berobat di rumah sakit, puskesma, klinik, dan praktek bersama dokter.
3. Pemantau ketepatan dan keamanan terapi obat bagi pasien yang sedang berobat di rumah sakit
4. Pelopor dalam memberikan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat dengan sentuhan nilai-nilai keislaman
5. Pemberi informasi dan konsultasi obat bagi masyarakat umum dan tenaga kesehatan lainnya demi tercapainya penggunaan obat yang tepat.

Untuk bidang peminatan industri farmasi, program studi profesi apoteker diharapkan dapat menghasil lulusan dengan profil sebagai berikut :
1. Penanggung jawab terhadap produksi obat tradisional maupun obat modern dengan mutu yang terjamin sehingga dapat memberikan manfaat terapi yang maksimal bagi masyarakat
2. Penanggung jawab terhadap penemuan formulasi obat baru sehingga dihasilkan produk-produk dengan kerja yang lebih baik
3. Penanggung jawab terhadap produksi obat yang terjamin kehalalannya