Dosen Farmasi UIN Jakarta Mendapat Penghargaan Timmerman Award 2017

Dosen Program Studi Farmasi UIN syrarif Hidayatullah Jakarta, Ismiarni Komala, MSc, PhD, Apt medapat penghargaan Timmerman award 2017 yang diberikan oleh Perhimpunan Kimia Medisinal Indonesia (PERAKMI). Pememenang diumumkan pada tanggal 2 November 2017 pada Konferensi Internasional “The 5th International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences (ICPAPS) 2017 di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta. Konferensi ini  diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi UGM dengan berkolabarasi salah satunya dengan PERAKMI. Penghargaan Timmerman award merupakan penghargaan yang diberikan kepada Peneliti muda Indonesia yang telah memberikan kontribusi penting dalam bidang kimia medisinal.

FKIK Ikut Pecahkan Rekor Muri dengan Cuci Tangan Bersama

Dosen, pegawai, mahasiswa, dan masyarakat umum berbaris untuk melakukan cuci tangan bersama di halaman gedung Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta, Jumat (17/3/2017). Aksi tersebut dilakukan guna memecahkan rekor Muri dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-43 Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Gedung FKIK, BERITA UIN Online Sekitar 250 orang melakukan cuci tangan bersama di depan gedung Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta, Jumat (17/3/2017). Aksi yang diikuti oleh para dosen, pegawai, mahasiswa, serta warga sekitar tersebut berlangsung selama sekitar satu jam. Read more

Dosen UIN Jakarta Ciptakan Gelatin Halal dari Kambing Etawah

Berita FIKES Online.– Dosen Program Fakultas Ilmu Kesehatan Zihadia menemukan sumber gelatin halal untuk cangkang kapsul pembungkus obat. Hasil penelitiannya, kulit kambing jenis peranakan ‎etawah bisa jadi sumber gelatin halal.

“Kambing peranakan etawah dapat menjadi sumber gelatin yang baik karena halal, mudah didapat, harga relatif terjangkau dan mempunyai sifat gelatin yang baik untuk dijadikan cangkang kapsul keras dan lunak dalam industri farmasi,” kata Zilhadia dalam keterangan pers Humas UI, Selasa 17 Januari 2017.

Zilhadia menggondol gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul “Ekstraksi Gelatin dari Kulit Kambing Peranakan Etawah Menggunakan Metode Hidrolisis Asam dan Penggunaannya pada Pembuatan Cangkang Kapsul Keras” di Auditorium Gedung Farmasi UI, Kota Depok, Kamis 12 Januari 2017. Kambing peranakan etawah juga dipilih karena mempunyai bidang kulit yang lebih luas dibanding kambing lokal merek lain. Zilhadia menambahkan, kambing tersebut‎ merupakan jenis kambing unggul dan potensial dikembangkan di Indonesia.

Cangkang kapsul yang membungkus obat umumnya terbuat dari gelatin dari kulit maupun tulang sapi dan babi atau pembentuk gel lainnya. Ada yang berbahan keras serta lunak. Di Indonesia, kehalalan ‎cangkang kapsul menjadi prioritas utama bagi para konsumen. Sebagai upaya mencari alternatif sumber gelatin halal yang potensial, Zilhadia mengembangkan penelitian terkait gelatin kulit kambing etawah

Setelah melalui serangkaian uji coba laboratorium, Zilhadia menyimpulkan gelatin kambing etawah dapat memenuhi persyaratan sebagai bahan dasar pembuatan cangkang kapsul keras pada obat. Tak hanya itu, gelatin tersebut dapat diaplikasi pada industri farmasi lain seperti makanan serta kosmetik. Zilhadia mengolah kulit kambing ini menjadi gelatin dengan metode hidrolisis asam.

Metode tersebut dilakukan dengan cara merendam kulit kambing dengan larutan sodium sulfida dan kalsium hidroksida. Lebih lanjut, cangkang kapsul dari gelatin kambing ini telah diuji laboratorium melalui uji keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kadar air kapsul, uji waktu hancur, uji kandungan sulfit kapsul, pengukuran pH, dan uji mikroba.

Pada 2007, produksi gelatin dunia didominasi dari gelatin kulit babi yaitu sebesar 46%. Sisanya, sebanyak 29,4% dari kulit sapi, 23,1% dari campuran tulang babi dan sapi, dan 1,5% dari tulang ikan, kerang, dan lain-lain. Gelatin kulit kambing dapat menjadi solusi atas permasalahan yang timbul akibat penggunaan kulit sapi dan babi. Di sejumlah negara, penggunaan gelatin babi dapat menyebabkan kontroversi tersendiri.

Demikian halnya bagi penganut agama Hindu. Sapi merupakan hewan suci yang wajib dijaga. Sapi juga relatif lebih mahal dibandingkan babi. Akibatnya, produsen lebih memilih babi sebagai bahan pembuatan gelatin. Sedangkan sumber gelatin dari hewan laut seperti kerang dan ikan juga tidak bisa menjadi andalan karena jumlahnya yang lebih sedikit dan sifat gelatinnya tidak sebaik sapi dan babi.‎***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2017/01/17/mahasiswa-ui-ciptakan-gelatin-halal-dari-kambing-etawah-390938